Hari-hari yang kujalani seperti biasa. Tak ada yang menyenangkan. Hanya siksaan yang bertubi-tubi dan kebencian yang kurasakan dari orang-orang terdekatku. Aku tak tahu kenapa! Hanya air mata yang bisa mnyelesaikan masalahku ini. Cinta. Kata ini, maupun rasa ini tak pernah menyentuh ataupun sekedar singgah untuk mengarungi hidupku yang kian gelap. Di sekolah, di rumah, maupun di tempat lain, tak pernah sama sekali kurasakan kasih sayang. Hanya paksaan, cacian, dan kebencian. Mungkin Tuhan pun marah melihat diriku, karena tak bisa mnganggap kebencian sebagai kasih sayang.
Tapi apa boleh buat, jujur aku tak bisa menahan semua ini. Saat itu, ketika aku mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupku dengan jalan yang mungkin orang menganggapnya konyol. Kumasukkan kepalaku dalam sebuah bak mandi, sampai akhirnya kurasakan sesak. Namun, mengapa aku malahan menahannya, mengapa aku mesti berhenti untuk melakukan ini? Aksi bunuh diriku tertahan. Hanya karena mengingat jasa-jasa orang tua laknat. Orang tua yang semestinya memberi kasih sayang atau setidaknya mengerti bahwa aku juga menyayangi mereka. Hanya saja hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Mereka hanya memaksaku untuk belajar, rajin, tanpa melihat bahwa aku pun ingin bebas. Aku juga manusia biasa yang juga ingin merasakan kemanjaan seperti yang dirasakan oleh temanku.
Lagi-lagi hal yang kubenci terjadi, dia seorang pria. Sakti. Aku tak tahu mengapa jantung ini mesti berdetak kencang ketika bertemu dengan dia. Dia tak sepantasnya merasakan cintaku dan kasih sayangku. Cintaku hanya untuk Allah. Kasih sayangku hanya untuk orang terkasih.orang yang betul-betul menyayangiku, tanpa memandang status maupun fisikku. Kuuapayakan untuk menghilangkan rasa ini. Kuawali dengan cara mendekati dia, agar dia hanya kuanggap teman biasa. Kujodohkan dia dengan temanku. Namun, hal ini tak berhasil. Dia malah membuat jantungku makin deg-degan. Saat dia kukenal lebih dekat, dia malah memiliki keistimewaan dimataku. Dia adalah orang yang cuek, pintar, dan mengagungkan. Hal yang sangat kuinginkan. Lagi-lagi aku tak bisa menahan rasa ini. Aku takut. Aku tak mau kasih sayangku jatuh pada dia. Orang yang tak bisa mengerti aku. Aku tak ingin. Kemudian, aku menghindarinya. Aku tak pernah memandang dia. Aku bahkan tak pernah saling berbicara dengan dia, sejak hari itu. Kuupayakan untuk berperilaku cuek. Walau hati masih deg-degan, tapi setidaknya dia bisa jauh dari diriku. Teman-teman sekelas pun heran dengan perilakuku yang aneh. Mereka malah menganggapku orang yang cepat bosan , dan hanya memanfaatkan orang lain. Aku ingin menepis berita angin itu. Namun, berita itu telah tersebar. Kebencian merajalela. Lagi-lagi kuselesaikan dengan air mata. Kukurung diriku dalam kamar mandi.
Masalah baru! Teman yang selama ini telah menemani diriku telah pergi. Pergi dengan tiba-tiba. Dia bahkan mengabariku, sehari sebelum dia pergi. Hanya bantal yang bisa kuberikan, bantal berbentuk hati. Sebagai tanda akupun ingin, dia mengingat diriku didalam hatinya. Sayang, setelah dia pergi ia malahan lebih menghubungi pacarnya. Dia tak mau mengenalku lagi. Tak tahu kenapa! Ia malahan lebih memilih seseorang yang baru dikenalnya dibanding aku. Seseorang yang telah mengenalnya sejak ia masih SD. Sekarang, saat masa kedewasaan mulai tumbuh yaitu masa SMA. Ia malah pergi padahal aku sangat membutuhkannya. Untuk menemaniku disaat-saat sesak seperti saat ini. Kebencian.
Sebenarnya aku tak boleh menyalahkannya, mungkin ia meninggalkanku atau berusaha tuk melupakanku, karena aku adalah orang yang membosankan. Terkadang aku tak tahu harus bagaimana menanggapi seorang teman. May be, causing that many people don’t want to get relation with me. Sorry.
Hal-hal inilah yang membuatku, selalu merasakan keputusasaan. Jujur, aku tak tahu harus bagaimana. Walaupun aku masih SMA, kelas satu pula. Begitu banyak siksaan yang kuterima. Mulai dari dalam hingga luar. Dan lagi-lagi kuselesaikan dengan tangisan. Aku ingin hidupku seperti makna dari namaku Yusriah Yaitu wanita yang memiliki kemudahan. Nama yang malah membuatku sengsara. Nama yang malah membuat orang – orang menertawakanku. Sesungguhnya, aku sangat menyayangi nama ini. Karena ini merupakan pemberian terindah, ketika aku masih tersembunyi dalam kedosaan. Hanya saja mengapa masih ada orang yang menganggap namaku aneh. Padahalkan tidak. Ini nama yang tidak aneh kok! Aku benci mereka.
Pusing. Sangat pusing. Aku adalah seorang bendahara dalam suatu organisasi dalam sekolahku. Aku sangat dekat dengan ketua dalam organisasi itu. Fatur. Seseorang yang sepertinya memiliki agama yang kuat dan berpendirian kuat, serta mudah mengerti perasaan orang lain. Hanya saja sifatnya yang dingin tehadap gadis-gadis disekolahku membuat orang-orang yang berada disekitarnya menganggap Fatur adalah orang yang sangar padahal tidak. Sebenarnya ia adalah orang yang berhati mulia. Aku bersyukur telah mengenalnya. Dulu aku bersaha untuk menyayangi dia. Namun, aku tak bisa. Aku merasakan bahwa ia terlalu sempurna untukku. Aku tak pantas. Dan hati ini pun tak bisa deg-degan ketika bersamanya. Aku hanya bisa menganggapny a sekedar teman. Only Friend.
Inilah hidupku. Tak pernah merasakan kasih sayang utuh dari seseorang, atau memberikan kasih sayang utuh terhadap seseorang. Kasih sayangku telah tertutup untuk siapa pun. Namun, ketika ia datang. Seseorang yang sama sekali tak kukenal malah membuat diriku terpaku oleh kesediaan dia untuk mendengar keluhan-keluhanku. Walau aku tak melihat fisik atau materi dari orang tersebut tapi jujur hati ini tak bisa bohong untuk menyayangi seorang figur kakak yang betul – betul memberi makna dalam hidupku. Thanks Kak.
Aku mengenal dia secara tak sengaja. Saat aku menghubungi Sakti, seseorang yang telah membuat hatiku berdebar-debar. Namun ternyata nomor yang kuhubungi bukan nomornya melainkan, nomor sang kakak. ADAM. Saat itu awal dari masa kepolosanku sirna. Tiba-tiba ia masuk dalam kehidupanku. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapi ini semua. Ia sudah terlanjur memasuki kehidupanku yang penuh dengan duri. Sampai ia mesti merasakan kesialan yang aku alami. Namun, ia masih saja mau menemaniku, memberikan nasihat, serta semangat yang tak pernah akan kulupakan. Tapi, aku tak tahu mengapa rasa ini tiba-tiba datang. Rasa untuk menyayangi seseorang. Aku memang tak ingin menjadi istimewa didirinya. Tapi, aku ingin selalu mendengar nasihatnya. Aku ingin selalu mendengar kata-kata bijaknya. Aku ingin selalu mendengar candaannya. Bahkan aku ingin selalu mendengar suaranya. Suara yang membuatku terbuai, walau aku tak pernah bertemu dengannya, walau aku hanya berhubungan melalui telepon. Tapi, tetap kurasakan kasih sayangnya. Namun aku tahu rasa ini akan membuatku lupa akan wujudku, bahwa aku harus menempatkan Allah SWT dihatiku. Aku tak boleh membagi cintaku terhadap hamba-Nya. Maka dari itu, kuputuskan hubungan ini. Rasa untuk meninggalkannya sungguh berat. Sangat berat. Tapi, ini kulakukan hanya untuk dirinya, diriku, dan Cintaku. Saat-saat terakhir mendengar suaranya membuatku terpuruk. Susah. Sungguh susah. Tapi, semua itu harus kulakukan. Harus. Harus. Sampai akhirnya terputus. Ia telah pergi tuk selamanya. Kecuali, Tuhan mengijinkanku.
Tapi, aku takkan melupakannya. Karena ia adalah cinta pertamaku. Kakakku.
kretif...adalah salah satu sifat TUHAN ( Khalik).teruslah berkarya semampumu....By HAMBAmoe
BalasHapus