Sabtu, 07 Maret 2009

KIsahku


Ketika bintang bersinar terang, bulan pun tertawa mendengar candaan berjuta bintang yang menemaninya. Yahhh, enak juga jadi bulan. Disini disenyumi, disana disenyumi oleh banyak bintang lagi! Andai hanya aku yang boleh memberinya senyum. Oh….andai saja. Tetapi, itu tak mungkin!!!

“Bulan…selamat pagi” sapa Arman.

“Selamat pagi” balasnya dengan senyum manis.

Lagi-lagi aku hanya lewat menunduk bahkan senyum pun tak bisa kututurkan. Bodoh. Dia kan teman kelasku, mengapa susah sekali untuk mendekatinya. Andai saja kupunya keberanian seperti Aswar, Ruslan, atau mungkin Wahyu. Mereka dengan mudahnya bercanda tawa dengan gadis cantik itu. Bulan. Sosok yang bisa dikatakan hampir sempurna untuk ukuran mataku. Pasti iya. Dia pintar, sopan, supel, cantik plus manis, ramah, dan pokoknya bagus-bagus. Aduh, aku terkena asmara!!!! Tetapi, kan sudah lama dari kelas satu hingga kelas tiga SMA sekarang. Namun, sampai sekarang belum pernah sedikit pun aku bercanda tawa dengannya. Susah juga jadi lelaki pemalu.

“Bayu” astagfirullah Bulan memanggilku.

“Iya, ada apa?” kujawab dengan cuek tapi mau.

“ Eh, kita kan satu kelompok diskusi mengenai browsing internet. Iya kan? Gini, aku dan teman-teman lain mau kerja kelompok sore ini di rumahnya Ahsani. Kamu ikut yah! Karena katanya kamu hebat dalam hal surfing dunia maya.”

“Ah, ndak kok” kubalas dengan sepentir senyum

“ Kamu itu, cuek sekali. Tau nggak, cewek – cewek apalagi adik kelas, huuuu pada ngefans ama kamu. Yahhh, bagaimana tidak! Ketua ekskul TIK kok! He he he, Eh,sorry aku mau ke teman-teman dulu. Nanti kita digossipin lagi, kalau berdua-duaan.Ok! tapi ingat bentar yah. Aku nebeng di motor kamu!”

Ku hanya tersenyum, menatapi muka, dan inner beauty yang ia pancarkan sungguh indah. Tidak seperti Cinta Laura. Astagfirullah dia cewek atau apa! Sama teman saja dialognya kayak orang barat. Padahal baru tinggal seminggu di Jerman. Kata anak-anak, cape deh.

Kring…..kring….lonceng sekolah berbunyi. Tanda kalau sebentar lagi kubisa berboncengan dengan Bulan.

“Bayu, kamu mau pergi kerja kelompok yah?” Tanya Afgan.

“ Iya, ada apa?”

“ O, tidak, sekedar bertanya”

“ Ok, aku duluan yah! Bul....eh maksud aku teman-teman udah nunggu. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Kutinggalkan Afgan dengan segera yah walaupun kutahu dia jarang sekali menyapaku. Mungkin dia sibuk sebagai ketua OSIS atau mengurusi Bulan. Eh, sekarang tidak! Sudah putus, padahal mereka tampaknya akur dan bisa dikatakan serasi walaupun aku lebih pantas.

“ Bayu!!! Aku disini!”Teriak Bulan. Sedikit nakal sih menurutku, tetapi tak apalah. Mungkin orangnya memang ekspresif”

“ Kamu itu sudah kutunggu 20 menit yang lalu. Teman-teman kusuruh duluan. Dari mana aja sih?”

“Maaf, aku tadi bertemu Afgan”

“ Oh, begitu yah. Kalau begitu, ayo!”

Diperjalanan menuju rumah Ahsani, aku berbincang dengannya. Orangnya memang seru. Tak pernah aku kehabisan bahan pembicaraan dengannya. Takjub aku, dengan dirinya.

“ Akhirnya sampai juga”dia berhela lega, tetapi tetap anggun.

“ eh, ayo! Udah ada Rahma, Risma dan Cesil di dalam.”

“ Ha? Perempuan semua?”kagetku minta ampun saat itu.

“ Tidak! Ada juga Amil dan Ikram”

Yah sesampai di dalam, kayaknya ada yang aneh. Mengapa Bulan tak menyebut nama Eni?

“ Yah, ahli computer kita sudah datang!” Puji Amil

“ Iya, eh Eni, ada apa?” Tanya Bulan

“ Tidak, kuhanya singgah kesini kebetulan Afgan mau juga datang kesini.”

“ Ciyeeeee,orang baru jadian ka eh”ejek Cesil

“ Ah, kalian bisa aja”sapa malu si Eni yang juga manis. Tapi aku tak tertarik dengannya.

Tak lama kemudian Afgan datang, namun sesungguhnya kami tak menginginkan kedatangannya. Karena sesampainya di rumah Ahsani, dia malah keluar bersama Eni dan hanya menitip motornya. Kurang ajar sekali dia. Apa dia tak tahu kalau Bulan tersinggung. Sungguh keterlaluan Afgan. Tetapi saat kutatap Bulan, dia hanya tersenyum menahan rasa sakit hati yang ia alami. Huuuu, gadis idolaku.

Setelah perjumpaanku dan keakraban yang awal, bukan hanya sementara. Semenjak kerja kelompok itu, aku dan dia semakin akrab. Banyak yang tak kutahu dari dirinya, sekarang telah terbuka semua. Mulai dari dia kehilangan kedua orang tuanya, tinggal bersama neneknya yang cerewet tapi sangat menyayanginya, hingga kisah percintaannya dengan Afgan yang sebenarnya tak perlu kuketahui, malahan terungkap semua. Tetapi itu bukan keinginanku, dia yang sering curhat denganku. Mulai saat itulah aku sangat akrab dengannya bahkan ke kantin pun bersama-sama, apalagi kalau pulang. Kuajak terus dia pulang. Selama masih ada kesempatan kenapa tidak, tetapi pastinya tetap kutampilkan sifat cuekku.

Suatu ketika, tak tahu kenapa dua hari setelah UAN, keberanianku timbul untuk menyatakan perasaanku dengannya. Akhirnya kuputuskan melalui surat saja. Awalnya kuajak dia untuk makan ke rumah makan Aroma, satu-satunya rumah makan yang menurutku pantas di Maros. Tetapi, dia tak datang padahal dia sudah janji tuk bertemu denganku. Berselang 1 jam kumenunggu, kutelepon dia, namun tak ada jawaban. Yah…Karena hal itulah, kuputuskan tuk kembali ke rumah. Setidaknya kubisa istirahat atau membantu ayahku di bengkelnya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tetapi belum juga ada kabar mengenai dirinya. Setiap hari kuhubungi HPnya namun, tetap saja tak ada jawaban, bahkan kadangkala tidak aktif. Mungkinkah dia marah terhadapku, tetapi Karena apa? Setahuku aku tak pernah sekalipun menyinggungnya, dan dia pun tak pernah risih dengan keberadaanku yang dekat denggannya. Aneh.

“Assalamualaikum” seperti ada tamu, ah mungkin perlu dengan bapak atau ibu. Kualihkan kembali pikiranku pada Bulan.

“Bayu, temanmu!!”

“Siapa”

“Tidak tahu, ayo keluar cepat! Temanmu menunggu nih!”

Tak pernah kusangkah Afgan datang ke rumahku. Untuk apa dia kesini? Perasaan aku tak punya urusan dengannya.

“Eh, Afgan, ada apa?”

“Begini ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu”

“Apa”tanyaku dengan heran.

“Bulan…..”

Ada apa dengan Bulan?”

“Dia menyuruhku tuk menyampaikan permintaan maafnya karena tak sempat menemuimu, beberapa bulan yang lalu. Karena sesuatu hal yang tak bisa ia tinggalkan.”

“Tetapi, mengapa ia tak menghubungiku melalui telepon? Dan mengapa baru sekarang ia minta maaf?”

“Sebenarnya sudah lama, namun ia menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya.”

“Maksudmu?”

“Eh, aku tak bisa lama disini Eni menungguku di rumah Bulan.”

“ Tunggu dulu, bisa tidak kalau saya minta alamat Bulan”

“Oh…ya!Nanti saya sms kamu”

“ Etssss, tunggu dulu ada yang ingin kuberikan padamu(kuambil suratku untuk kutitipkan pada Afgan)sekalian berikan surat ini kepadanya, dan tolong jaga usahakan surat ini sampai padanya tanpa sedikit lecet ataupun apa!”

“OK, kalau begitu saya permisi dulu.Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam”

HPku berbunyi, mungkin sms dari Afgan. Tetapi aku salah! Ternyata dari Bulan.

Flowchart: Multidocument: Asw, Bayu. Maaf aq baru bs menghubungimu skrg. Oh, trim ksh ats suratnya. Aq sdh menduganya dr dulu.J  oH, iya ini alamatku, Jln .Mangga no.1. km bisa tdk dtng bsok tepat jam tujuh mlm, g papakan?! Etss,Sms tdk dbls, krn JwbnnYa hrs IYA. J J





Keesokan harinya tepat jam tujuh malam. Yahhh itu dia rumahnya bercet warna putih. Namun ada yang aneh kurasa, rumahnya begitu sepi entah kenapa. Akhirnya ia pun keluar dari rumahnya dengan jaket berwarna hijau dan syall berwarna putih. Diikuti rambut hitam semampai yang membuat dirinya tampak begitu cantik.

“Bayu, terima kasih, kamu sudah mau datang”

“iya”

“Bagaimana kabarmu, baik-baik saja kan?!”

“ Ya, seperti yang kamu liat”

Ada suatu hal yang ingin kuberikan padamu”

Kulihat dari jejarinya yang manis ada sebuah undangan pernikahan. Kuambil lalu kubuka. OHHHH TIDAK!!!!!!!SECEPAT ITUKAH????DAN BARU KUTAHU SEKARANG!!!INGIN MARAH RASANYA DIRIKU!!!!!!!!ADA PERASAAN CEMBURU, JENGKEL DAN BERCAMPUR!!!!!

“Apakah ini betul?”

“IYa”

“Jadi, Afgan mau nikah sama Eni!”

“Iya!”jawab Bulan dengan tegas.

“Kalau kita kapan?”tanyaku pula dengan nada sedikit melucu tetapi serius.

Terlihat senyum dari Bulan melihat diriku. Itulah mungkin pertemuan pelepas rinduku terhadapnya. Sekian lama kutunggu cintaku akhirnya telah kutemukan dia. Yahhhh sosok yang hampir sempurna di mataku. Namun, sampai sekarang belum pula kutahu alasan mengapa ia tak datang menemuiku pada saat itu. Mungkin di kisah selanjutnya bukan pada KISAHKU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar